77. AL WAALIY (Dzat Yang Maha Memerintah) Segala sesuatu yang diciptakan Allah Ta’ala yang ada dialam semesta ini, ditundukkan dan diperintahkan oleh Allah Ta’ala untuk membantu dan melayani manusia didalam melakukan keta’atan kepadaNya. fisik (jasad) ditundukkan oleh Allah Ta'ala untuk membantu manusia melakukan ibadah dan amal-amal sholeh. Pakaian ditundukkan oleh Allah Ta’ala untuk menutupi aurat. Air ditundukkan oleh Allah Ta’ala untuk melayani kebutuhan manusia, seperti minum, memasak, mencuci, mandi, berwudhu dan lain sebagainya. Kendaraan ditundukkan oleh Allah Ta’ala untuk memudahkan aktifitas manusia. Harta ditundukkan oleh Allah Ta'ala untuk berjuang dijalan-Nya. Begitupun juga dengan yang lainnya. Pada dasarnya semua yang ada di-alam ini ditundukkan oleh Allah Ta’ala untuk melayani manusia guna melakukan ketaqwaan kepada-Nya. Oleb sebab itu mereka sangat senang sekali apabila dipakai oleh manusia untuk melakukan ketaqwaan kepada Allah Ta'ala. Begitupun sebaliknya mereka akan sakit hati apabila manusia menggunakannya untuk melakukan kemaksiatan kepada Allah Ta'ala. Akan tetapi kebanyakan manusia justru menggunakan apa-apa yang ada dialam ini untuk melakukan kedurhakaan kepada Allah Ta'ala. Banyak sekali harta yang dipakai untuk kepuasan hawa nafsu, banyak sekali kendaraan yang dipakai untuk kesombongan, banyak sekali rumah, pakaian dan lain sebagainya yang dipakai untuk riya’ dan bermegah-megahan, begitupun juga dengan hal-hal yang lain. Padahal mereka semua akan menjadi saksi dihadapan Allah Ta'ala nanti. Apabila manusia menggunakannya untuk kedurhakaan kepada Allah Ta’ala, maka mereka akan menjadi saksi yang memberatkan. Dan apabila digunakan untuk ketaqwaan, mereka akan menjadi saksi yang meringankan. Oleh sebab itu tidak ada satupun dari perbuatan manusia yang tidak diketahui oleh Allah Ta’ala dan sedikitpun manusia tidak bisa mengelak dihari akhirat nanti. Karena semua alam ini akan menjadi saksi dihadapan Allah Ta’ala. Akan tetapi kebanyakan manusia selalu bersembunyi dari pandangan manusia dan dia lupa bahwa tidak ada satupun yang tersembunyi bagi Allah Ta’ala. Walaupun manusia tidak ada satupun yang mengetahui, akan tetapi Allah pasti mengetahui. Dan alam ini juga mengetahui sehingga mereka semua akan menjadi saksi kelak dihari akhir. Apabila kita melakukan sesuatu apakah itu perbuatan yang baik atau perbuatan yang buruk, maka bumi yang kita pijak, tanam-tanaman yang ada disekeliling kita, kendaraan yang kita gunakan, baju yang kita pakai, bahkan kulit kita dan lain sebagainya, semuanya akan menjadi saksi tentang apa-apa yang kita kerjakan tersebut kelak diakhirat. Oleh sebab itu manfaatkanlah apa-apa yang telah Allah tundukkan ini sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Ta’ala yaitu untuk melakukan keta’atan kepadaNya, sehingga bisa menyelamatkan kita diakhirat kelak. Apabila benda-benda yang ada dibumi ini kita pakai untuk kefasikan atau kedurhakaan, maka mereka akan merasa sakit hati sehingga mereka akan mengutuk kita dan mendo’akan agar kita diazab oleh Allah Ta'ala. Begitupun sebaliknya apabila kita gunakan untuk ketaqwaan, maka mereka sangat senang sehingga mendo’akan agar Allah Ta'ala merahmati kita dan mengampuni kita. Apapun yang kita miliki didunia ini pada dasarnya adalah titipan dari Allah Ta'ala yang harus kita gunakan dengan benar, yaitu untuk melakukan ketaqwaan kepada-Nya. Sedangkan bagaimana cara menggunakannya dengan benar, Allah Ta'ala telah menurunkan aturan-aturanNya yang ada didalam Al Qur’an dan Al Hadits. Ada lima faktor yang menjadi penghambat (penghalang) seseorang untuk melakukan keta’atan kepada Allah. 1. Penghalang yang paling utama adalah diri kita sendiri yang disertai hawa nafsu. Tubuh kita ini juga makhluk yang Allah ciptakan untuk membantu kita dalam melakukan keta’atan kepadaNya, karena sebetulnya kita hanya punya jiwa yang hanya punya keinginan. Jadi jiwa ini diberi ruh dan jasad sehingga dia bisa melakukan sesuatu. Sebagai contohnya jiwa ingin minum air. Andaikata jasad tidak mau bergerak, maka tidak mungkin kita bisa minum air. Akan tetapi terkadang apabila tubuh ini sering dipakai untuk maksiat, maka tubuh ini sendiri tidak mau tunduk, seperti capek, ngantuk dan lain sebagainya. Sehingga ibadah tidak bisa kita lakukan. awal dari semua itu harus dimulai dengan keinginan yang kuat untuk melakukan keta’atan kepada Allah, baru semua ini akan membantu kita untuk melaksanakan keta’atan kepadaNya. Hal ini dijelaskan dalam surat Thaahaa (20) : 115 115. Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat. Artinya dalam diri kita harus ada keinginan yang kuat untuk mematuhi segala perintah Allah Ta'ala dan laranganNya. Karena apabila kita mempunyai keinginan yang kuat, maka pertolongan Allah juga kuat. Hawa nafsu merupakan penghalang yang sangat besar untuk bisa melakukan keta’atan kepada Allah. Karena hawa nafsu inginnya yang enak-enak sedangkan keta’atan kepada Allah adalah sesuatu yang tidak enak. Karena menggeser keinginan dunia untuk kehidupan akhirat. Sebagai contohnya puasa. Tidak boleh minum, makan, bersetubuh, dan lain sebagainya. Jadi orang-orang yang masih menghendaki kehidupan dunia terasa berat untuk melakukan ketaatan. Bahkan ada orang-orang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Hal ini disebabkan perintah (keinginan) Allah terkalahkan dengan keinginan hawa nafsunya. Maksudnya keinginan-keinginan hawa nafsunya selalu diikuti tetapi keinginan Allah selalu diabaikan. Apabila seseorang sudah termasuk orang-orang fasik (selalu mengikuti hawa nafsu) maka syetan akan menggiringnya menjadi kafir, musyrik dan munafik. Apabila selalu bersembunyi dari pandangan manusia berarti munafik. Apabila tidak pandai bersyukur berarti kafir. Apabila menyekutukan Allah (percaya selain kepada Allah) berarti musyrik. Hawa nafsu hanya bisa dikalahkan dengan akal yang telah diisi dengan 3 ilmu. Yaitu ilmu mengenal Allah, Al Qur’an dan Al Hadits. Tanpa ketiga ilmu ini tidak mungkin manusia bisa mengalahkan hawa nafsunya. Oleh sebab itu hukum mencari ketiga ilmu ini adalah wajib (fardhu ‘Ain) 2. Penghalang yang kedua adalah syetan. Karena syetan selalu berupaya untuk melemahkan keinginan kita dalam melakukan keta’atan kepada Allah. Dan syetan ini terdiri dari golongan jin dan manusia. Apabila hawa nafsu tidak bisa kita kendalikan, maka syetan akan masuk menggoda. Karena tunggangan syetan adalah hawa nafsu. Sehingga untuk melakukan ketaatan semakin berat. Bagi orang-orang yang bisa mengendalikan hawa nafsunya maka tipu daya syetan tidak ada gunanya. Karena kekuatan satu nafsu sama dengan 70 syetan. Makanya hawa nafsu lebih berat. 3. Yang ketiga adalah waktu. Seolah-olah waktu ini sangat sibuk dan tidak sempat. Ini juga melemahkan kita untuk melakukan keta’atan. Makanya Allah ingatkan dalam surat Al 'Ashr (103) : 1 – 3 1. Demi masa. 2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, 3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. Amal ibadah dan amal sholeh harus disertai dengan keinginan yang kuat. Apabila waktu sudah lewat maka waktu tidak akan kembali, karena waktu dibagi tiga : a. Waktu yang lalu tidak bisa kita kembalikan atau ulang kembali. Oleh sebab itu pepatah mengatakan kesempatan tidak terulang kedua kali. Andaikata waktu yang lalu kita sia-siakan, maka yang ada tinggal penyesalan. b. Waktu sekarang inilah yang milik kita, yang sedang kita hadapi ini. Apakah kita manfaatkan untuk amal ibadah dan amal sholeh atau tidak. c. Waktu akan datang belum tentu menjadi milik kita. Belum tentu kita masih diberi kesempatan oleh Allah. Belum tentu kita masih hidup satu menit kedepan, satu jam kedepan atau satu hari kedepan. Oleh sebab itu Rasulullah membagi waktu dalam satu hari menjadi tiga. Yaitu 8 jam untuk beribadah, 8 jam untuk bekerja dan 8 jam untuk istirahat. 4. Faktor yang keempat adalah kesempatan. Terkadang manusia masih menunggu, ia tidak mau langsung mengambil kesempatan yang Allah berikan. Misalnya ada orang yang memerlukan bantuan kita. Terkadang kita masih berfikir, apabila orang ini aku bantu besok aku bagaimana? Hal ini juga melemahkan keinginan kita untuk melakukan keta’atan. 5. Faktor yang kelima adalah kondisi-kondisi luar. Seperti barang, harta dan lain sebagainya. Sebagai misal menjaga toko atau mengurus anak atau barang yang sulit kita dapatkan. Oleh sebab itu dalam beramal carilah yang sesuai dengan kemampuan. Inilah lima faktor yang menyebabkan manusia menjadi lemah dalam melakukan keta’atan kepada Allah Ta’ala. Akan tetapi andaikata kelima hal ini bisa diatasi, maka Allah Ta’ala akan membantu seseorang tersebut untuk malakukan keta’atan kepadaNya, sehingga Allah Ta'ala memerintahkan kepada semua makhluqNya untuk membantu orang tersebut dalam melakukan keta’atan kepada Nya. Allah telah begitu banyak memberikan kenikmatan kepada kita. Oleh sebab itu marilah kita hitung-hitung seberapa banyak yang kita pakai untuk ketaqwaan dan seberapa banyak yang kita pakai untuk kefasikan. Karena setiap yang kita pakai untuk kepuasan hawa nafsu akan ada pertanggung jawabannya (hisab). Sebab tujuan Allah memberikan segala sesuatu adalah untuk ketaqwaan kepada-Nya. Apabila kita menghitung nikmat mata saja sudah berat untuk mempertangung jawabkannya. Berapa banyak mata ini kita pakai untuk memandang sesuatu yang benar dan berapa banyak yang kita pakai untuk memandang sesuatu yang bathil? Padahal tujuan Allah memberikan penglihatan adalah untuk beribadah kepadaNya. Seperti membaca kitabNya, melihat tanda-tanda kebesaranNya dan lain sebagainya. Begitu juga mulut, telinga, tangan, kaki, pikiran, harta, tenaga, ilmu dan lain sebagainya. A. Sisi Tafakkurnya Sudah berapa banyak pemberian-pemberian yang ditundukkan Allah kepada kita yang kita pakai untuk ketaqwaan sehingga mereka bisa bersaksi atas kebaikan yang telah kita laksanakan? dan seberapa banyak yang kita pakai untuk kemaksiatan, sehingga merekapun bersaksi atas kejahatan yang kita lakukan? B. Contoh Do’a Dari Sisi Keimanan Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hambaMu yang mempergunakan segala apa yang Engkau tundukkan bagi kami untuk sebuah ketaqwaan kepada-Mu. C. Sikap Orang Beriman Dia sangat yakin bahwa benda-benda yang ada dialam ini termasuk fisiknya sendiri, ditundukkan oleh Allah Ta'ala untuk membantunya didalam melakukan ketaqwaan kepada Allah Ta'ala. D. Sikap Orang Bertaqwa Dia sangat menginginkan agar dirinya dido’akan kebaikan oleh makhluq-makhluq yang lain. Sehingga dia akan menggunakan benda-benda yang ada dialam ini untuk melakukan ketaqwaan kepada Allah Ta'ala. Dia sangat takut apabila Allah Ta'ala murka kepadanya dan benda-benda yang ada dialam ini mengutuknya serta mendo’akan keburukan baginya. Oleh sebab itu dia akan memanfa’atkan benda-benda yang ada dialam ini untuk menjalankan perintah-perintah Allah Ta'ala dan menjauhi segala larangan-Nya. Didalam satu keterangan dijelaskan bahwa apabila ada orang bertaqwa meninggal dunia, sebelum keluarganya menangis, maka pertama sekali yang menangis adalah bumi dimana tempat dia bersujud dan melakukan amal-amal sholeh, seraya bermunajat kepada Allah Ta'ala : “Ya Allah ya Tuhan kami, tidak ada lagi orang yang bersujud dan memuji Engkau serta melakukan amal-amal sholeh diatas punggungku”. Dan diakhirat nanti bumi akan bersaksi bagi kebaikan dirinya. Rasulullah SAW adalah Rahmatan Lil ‘Alamin. Dimanapun beliau berada selalu menjadi rahmat bagi alam disekitarnya. Tidak hanya kepada manusia saja tetapi terhadap semua makhluq. Pernah suatu ketika beliau hendak sholat, tetapi diatas sajadah beliau terdapat kucing yang sedang tidur. Lalu beliau menggunting sajadah tersebut dan membiarkan kucing tetap tidur. Oleh sebab itu semua makhluq yang ada di alam ini sangat cinta kepada beliau dan akan bersaksi bagi kebaikan beliau diakhirat kelak. Dan selama beliau hidup dimuka bumi ini, seluruh alam semesta mendo’akan kebaikan bagi beliau. Ada lagi sebuah kisah yang menceritakan tentang kasih sayang Umar Bin Khattab terhadap burung. Yaitu pada suatu ketika ada anak-anak kecil yang bermain-main dengan burung. Kemudian lewatlah Umar Bin Khattab. Melihat burung yang dipermainkan oleh anak-anak kecil tersebut, Umar Bin Khattab merasa kasihan lalu berkata : “Wahai anak-anak, jangan engkau sakiti burung itu. Karena dia adalah makhluq Allah Ta'ala seperti kalian”. Kemudian Umar Bin Khattab membeli burung itu dan melepaskannya. Pada saat Umar Bin Khattab meninggal dunia dan telah dimasukkan kedalam liang kubur, maka burung itu menjatuhkan dirinya kedalam makam Umar Bin Khattab dan ingin ikut bersamanya. Selama ini kita tidak sadar bahwa alam ini mendo’akan keburukan bagi kita, karena kita pakai mereka untuk kefasikan dan kedurhakaan. Dan mereka lebih tahu bagaimana berdo’a kepada Allah Ta'ala, sehingga sering kali kita mengalami kesulitan didalam hidup ini. Seharusnya sebagai umat Nabi Muhammad SAW kita harus meneladani beliau yaitu menjadi rahmat bagi semesta alam. Dan hal ini harus kita mulai dari kecil, yaitu dari lingkup keluarga apabila kita sudah punya keluarga. Bagaimana seorang suami selalu berkata dan bertingkah laku yang bisa membuat isterinya senang. Bagaimana seorang isteri selalu berkata dan berbuat sesuatu yang bisa membuat suaminya senang. Bagaimana seorang anak yang berkata dan berbuat sesuatu yang bisa membuat orang tuanya senang. Apabila kita belum punya keluarga, maka kita harus menjadi rahmat bagi teman-teman kita. Yaitu kita selalu berusaha untuk menyenangkan mereka, baik dengan perkataan dan perbuatan kita. Akan tetapi semua itu harus digaris bahwahi bahwa menyenangkan manusia harus diniatkan karena Allah Ta'ala dan harus sesuai dengan syareat yang telah Dia tentukan. E. Contoh Do’a Dari Sisi Ketaqwaan Ya Allah, tolonglah kami agar kami menjadi kuat untuk tidak mempergunakan segala sesuatu yang Engkau tundukkan kepada kami untuk kefasikan. F. Sikap Orang Bertawakkal Dia selalu memohon kepada Allah Ta'ala agar dipermudah untuk menggunakan benda-benda yang ada dialam ini untuk melakukan ketaqwaan kepada-Nya. Dan dia juga memohon agar dipersulit apabila hendak melakukan kefasikan. Setelah itu dia berserah diri kepada Allah Ta'ala. Oleh sebab itu bagi Dia akan diberi kemudahan-kemudahan oleh Allah Ta'ala untuk melakukan ketaqwaan kepada-Nya, sehingga dia mendapatkan ridho Allah Ta'ala dan ridho semua makhluq. G. Sikap Orang Mukhlis Dia akan menerima dengan ikhlas apabila Allah Ta'ala tidak menundukkan alam ini kepadanya, disebabkan dia melakukan kefasikan. Sebagai contohnya dia akan pergi kesuatu tempat. Kemudian Allah Ta'ala menjadikan kendaraannya mogok, sehingga dia tidak bisa berangkat. Hal ini dia terima dengan ikhlas dan sangat bersyukur. Karena andaikata pergi, mungkin saja dia akan terlakukan kefasikan. H. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Al Waaliy Apabila sudah menjadi kholifah, maka ia mudah sekali dalam melakukan amal ibadah atau amal sholeh. Seolah-olah banyak sekali yang membantunya dalam melakukan keta’atan kepada Allah. Bahkan waktu yang biasanya sibuk seolah-olah hilang kesibukan tersebut, sehingga dalam melakukan amal ibadah atau amal sholeh tidak ada keraguan sedikitpun sejauh niatnya betul-betul murni karena Allah bukan karena nafsu. I. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Al Waaliy Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu dalam membantu manusia untuk dapat mempergunakan apa-apa yang Engkau tundukkan bagi mereka untuk sebuah ketaqwaan kepada-Mu. Agar manusia dapat melihat bahwa sesungguhnya segala sesuatu yang Engkau ciptakan hanyalah dipergunakan untuk ketaqwaan kepada-Mu, bukan untuk mendurhakai-Mu.